Reaksi di Awal 2017

Sebagai perbandingan, berikut ini ada pesan masuk melalui whatsapp tentang dua contoh reaksi yang cukup unik, namun maknanya saling berseberangan satu sama lainnya. Tujuan pesan tersebut tidak lebih untuk mempengaruhi pembacanya. Secara tersirat, pesan ini sepertinya ajakan / imbuan untuk mengambil sikap terhadap kondisi negeri yang terjadi sekarang. Adapun isi pesan tersebut :

Pesan 1
Hadiah Awal Tahun yang Memilukan
Tarif listrik 900w Naik (yang paling banyak dipakai rakyat kecil).
Tarif STNK cs Naik.
Harga BBM Naik.
Masih Betah dengan Sistem Ini???
What?!!
Hanya Syariat Islam dan Khilafah Solusi yang Memahami Manusia dan Memanusiakan Manusia.
Selain itu?
Kelar hidup loe!

Pesan 2
Para Ulama menyampaikan, dahulu manusia mengadu kepada salah seorang Salaf lantaran melambungnya harga-harga, maka ia menasehatkan,”Turunkan harga dengan istighfar.”
Allah berfirman: “Mohon ampunlah kepada Robb-mu karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan menciptakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (Nuh: 10-12)
Dalam redaksi yang lain:
“Turunkan harga dengan taqwa.”
Allah berfirman: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan jadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Tholaq: 2-3)

Dari contoh dua reaksi tersebut, secara pribadi saya lebih cendrung dan sepakat dengan pesan yang kedua. Alasan saya, disamping logis, pesan moral yang disampaikan terasa lebih bijak dan mengena. Wallahu’alam,

2 Comments

  1. icha pista

    Agak bingung sama alasan negara lagi krisis sih mas. Negara krisis kan berimbas ke perusahaan yang ada di Indonesia, berimbas juga ke pekerja di Indonesia, trus harga dinaikin, tapi UMR pekerja gak naik, dan dengan keadaan krisis ini pendapatan pekerja jadi minim, tapi pengeluaran makin besar. Hemmmm

    Reply
  2. Buyung Sati

    Benar.. semua akan saling mempengaruhi satu sama lain. Sebenarnya saya ingin sekali komentar mba, hanya saja setelah saya pikir-pikir kembali, biarkan sajalah.. Apa pun juga pendapat saya, tentu tidak akan berarti apa-apa. Disamping bukan pengambil keputusan, saya juga bukan siapa-siapa.. Kalau dipaksakan, malah nanti saya dianggap sebagai penebar kebencian.. 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *