Rumah Gadang Kami

Ketika lagi periksa-periksa memori hp, secara tidak sengaja saya ditemukan gambar ini, tertanggal 15/12/2013 kemarin. Gambar tersebut saya ambil langsung ketika akan mengurus pernikahan salah seorang saudara.

Gambar diatas adalah rumahΒ  kaum keluarga besar kami dari garis ibu, suku Sikumbang, Nagari Sariak, Kecamatan Sungai Puar, Kabupaten Agam, yang terletak di lereng Gunung Marapi – Sumatra Barat.

Awalnya rumah gadang ini terbuat dari bahan kayu, seperti rumah gadang tuo (tua) lainnya yang ada di nagari-nagari Minangkabau. Karena lapuk di makan usia, maka dilakukakan renovasi total disana-sini.

Saya sendiri tidak tau pasti kapan renovasi tersebut dilakukan, karena seingat saya, sewaktu masih kecil-kecil dulu saya melihat rumah ini sudah seperti ini adanya. Tidak banyak terjadi perubahan sampai saat ini. πŸ™‚


Sejarah, asal-usul, dan fungsi Rumah Gadang

Rumah gadang adalah rumah adat bagi etnis Minangkabau. Biasanya disebut juga sebagai rumah Bagonjong. Awalnya pendirian sebuah rumah gadang dilakukan setelah adanya kesepakatan antara penghulu, kemudian hasil kesepakatan ini dibawa penghulu-penghulu lain yang ada dalam satu persukuan, dan kemudian seterusnya diteruskan lagi kepada penghulu-penghulu lain yang ada dalam nagari. Setelah kesepakatan dihasilkan , maka didirikanlah rumah gadang kaum tersebut diatas tanah kaum yang bersangkutan.

Bangunan dengan model rumah gadang ini juga banyak dijumpai di Negeri Sembilan, Malaysia. Ini dikarenakan keturunan raja-raja Minangkabau dahulu melakukan ekspedisi guna memperluas kekuasaan dan jaringan kesana, serta banyaknya masyarakat Minang yang menjadikan Malaysia juga sebagai salah satu daerah rantau. Namun demikian, tidak semua kawasan di Minangkabau yang mendirikan rumah adat ini, hanya pada kawasan yang sudah memiliki status sebagai nagari saja rumah gadang ini boleh didirikan.

Sejarahnya, pendirian rumah gadang ini dilaksanakan secara bergotong royong. Adapun fungsi pendiriannya adalah sebagai tempat acara pelaksanaan adat dan juga sebagai tempat tinggal bersama, yang mempunyai ketentuan dan tata cara tersendiri.

Untuk ukuran, pembangunan rumah gadang ini menyesuaikan dengan kebutuhan. Setiap perempuan yang bersuami mendapat satu kamar. Jumlah kamar disesuaikan dengan jumlah anak perempuan. Anak perempuan yang belum kawin tinggal di satu kamar, sedangkan anak-anak dan perempuan tua ada di dekat dapur.

Sesuai paham matrilineal yang menganut garis keturunan ibu, rumah gadang adalah rumah adat bagi perempuan. Laki-laki tidak mendapatkan tempat di rumah tersebut. Setelah menginjak usia akil balig, mereka tidak diperbolehkan lagi tinggal di rumah gadang. Mereka tidur di surau (masjid) untuk belajar mengaji, silat dan sekaligus belajar hidup mandiri. Hingga usianya dewasa dan siap merantau, mereka tetap tinggal di luar rumah.

Anak laki-laki ini hanya pulang ketika hendak mengganti pakaian, serta di fungsikan sebagai penjaga kewibawaan rumah. Inilah yang menjadi salah satu dasar filosofi mengapa masyarakat Minang merantau.

Rumah gadang juga sebagai wujud nyata bagaimana masyarakat Minang sangat menghormati dan melindungi kaum perempuan. Dengan rumah gadang, wanita diberi tempat dan posisi yang lebih dari perempuan-perempuan pada daerah lain yang ada di nusantara ini.

Salah satu tujuan mendasar dari pembangunan rumah gadang ini, agar mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi dikemudian hari. Misal, perempuan yang ditinggal atau di telantarkan oleh suami mereka, maka dengan ini mereka masih punya tempat berteduh, dan kelangsungan hidup mereka beserta anak-anak terus berlanjut, dan tidak terlunta-lunta.

Begitulah keterangan singkat tentang Rumah Gadang Suku Sikumbang Nagari Sariak, dan bagaimana sejarah sampai adanya Rumah Gadang tersebut. Sebagai salah satu ikon budaya Minangkabau, sudah sepatutnya salah satu aset budaya bangsa Indonesia ini kita jaga bersama agar tak hilang dikemudian harinya.

Referensi lain tentang bagaimana Rumah Gadang tersebut bisa lihat di sini :
http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Gadang
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1018/rumah-gadang

24 Comments

  1. Mohammad Isnaeni

    Ternyata tidak sembarang bisa mendirikan rumah gadang ya mas ..harus ada kesepakatan dari para penghulu .. dan keberadaannya wajib dilindungi dan dipelihara ..

    Reply
  2. ujang kutik

    Pak Cik mendapat info secara ' live ' mengenai budaya dan amalan etnik Minangkabau. Di antara yang menarik ialah kehidupan anak lelaki yang sepanjang hidup remaja mereka berumahkan masjid/surau. Terima kasih.

    Reply
  3. monda

    alhamdulillah, rumah pusaka bisa diselamatkan ya.. masih dipakai buat berkumpul sanak saudara
    aku lihat banyak juga rumah gadang di sekitar Bukittinggi yang doyong hampir ambruk..

    Reply
  4. Buyung Sati

    Alhamdulillah masih, walaupun sesekali saja terutama ketika acara adat. Rumah tersebut masih terawat sampai sekarang karena ada keluarga yang nungguin bu Monda.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *