Arti Mimpi Semalam

Tidak jarang seorang tidur mengalami mimpi yang menurut bersangkutan mimpi itu dianggap aneh, sehingga perlu ditafsirkan oleh seorang yang dianggap pintar, atau minimal mencari informasi dari berbagai media apa maksud dari mimpi tersebut.

Sebelum mencari informasi, mungkin kita perlu memahami sedikit tentang mimpi itu menurut Sunnah. Dari berbagai literatur para ulama, disimpulkan bahwa mimpi yang benar itu merupakan bagian dari nubuwah, seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam.

Hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu :

Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang sekali mimpi seorang muslim yang tidak benar. Dan orang yang paling benar mimpinya di antara kalian adalah yang paling benar ucapannya. Mimpi seorang muslim adalah sebagian dari 45 macam nubuwwah (wahyu). Mimpi itu ada tiga macam: (1) Mimpi yang baik sebagai kabar gembira dari Allah. (2) mimpi yang menakutkan atau menyedihkan, datangnya dari syetan. (3) dan mimpi yang timbul karena ilusi angan-angan, atau khayal seseorang. Karena itu, jika kamu bermimpi yang tidak kamu senangi, bangunlah, kemudian shalatlah, dan jangan menceritakannya kepada orang lain.” (Riwayat Imam Muslim No.4200).

Dalam riwayat yang lain ada yang menyebutkan bahwa mimpi merupakan satu bagian dari dari 70 bagian nubuwah. Yang pasti mimpi merupakan permulaan dari wahyu. Untuk kebenarannya tergantung pada orang yang mengalami mimpi tersebut, dan mimpi yang paling benar adalah mimpi orang yang perkataannya paling benar dan jujur.

Jika zaman sudah semakin dekat dengan kiamat, dikatakan hampir tidak ada mimpi yang meleset, karena jaraknya yang jauh dari masa nubuwah. Sementara pada masa nubuwah tidak memerlukan mimpi-mimpi yang benar ini karena kekuatan cahaya nubuwah.

Mimpi yang menjadi sebab hidayah – mimpi yang merupakan petunjuk – adalah mimpi yang khusus datang dari Allah. Mimpi para nabi adalah wahyu, karena tidur para nabi terlindung dari syetan. Sementara kategori mimpi yang mendekati kebenaran adalah mimpi yang tidak bertentangan dengan wahyu, dan perilaku orang yang bermimpi tersebut telah mencerminkan orang yang benar, seperti perilaku yang diajarkan oleh Rasulullah.

Siapa yang ingin mimpinya benar hendaklah dia terus-menerus menjaga kejujurannya, memakan yang halal, menjaga perintah dan larangan, tidur dalam keadaan suci, menyebut nama Allah hingga matanya terlelap. Jika dia berbuat seperti itu, boleh dikatan mimpinya mendekati kebenaran, dan bukan mimpi dusta atau sekedar angan-angan.

Mimpi yang paling benar adalah mimpi pada waktu sahur, karena pada waktu itulah turunnya wahyu, rahmat, ampunan dan saat syetan menyingkir jauh. Begitu juga sebaliknya, mimpi permulaan malam adalah mimpi yang banyak ditebari syetan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa jika mendapati sebuah mimpi yang mengusik pikiran,  maka hendaknya kita perlu memperhatikan hal-hal diatas. Apakah perbuatan dan perkataan kita sudah benar, dan atau perilaku keseharian kita sudah menjalankan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam? Kalau seandainya belum, bisa dipastikan mimpi tersebut tidak lebih dari hembusan syetan, ataupun sekedar angan-angan. Wallahualam bi Shawab,

Dikutip dari Madarijus Salikin, Penjabaran Kongkrit “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in”, Ibnu Qayyim Al-Jauziah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *